Ahli Epidemiologi UNHAS Nilai PSBB Tidak Berdampak
Ahli Epidemiologi UNHAS Nilai PSBB Tidak Berdampak
Ahli Epidemiologi Universitas Hasanuddin, Prof Ridwan Amiruddin, menilai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilaksanakan dalam dua tahap tak memberikan dampak signifikan dalam menekan laju Covid-19.
Hal ini dikarenakan faktor pertama kebijakan yang dikeluarkan pemerintah silih berganti tidak ada koordinasi antara pemerintah pusat, provinsi dan kota maka terjadi disharmonisasi kebijakan,” terangnya.
- DPRD Palopo Tetapkan Perda Pengakuan Masyarakat Adat, Pemkot Siap Tindak Lanjut
- Selamat! Kota Palopo Raih Penghargaan Kota Terinovatif IGA 2025
- JMSI Palopo Audiensi Bersama Imigrasi, Bahas Program Kerja dan Rencana Pelantikan
- Sepanjang 2025, Imigrasi Palopo Perkuat Pengawasan WNA dan Terbitkan Ribuan Paspor
- Walter Notteboom Muncul sebagai Kandidat Kuat Ketua HIPMI Palopo 2025–2028
Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Daerah Sulawesi Selatan periode 2017-2020 ini menerangkan bahwa bentuk disharmonisasi kebijakan ini tergambar dalam beberapa bentuk kebijakan Pemerintah yang tidak sinkron.
Semisal Pemerintah Pusat yang mengeluarkan kebijakan pengoprasian kembali transportasi umum semisal pesawat serta kebijakan membuka tempat-tempat umum seperti mall hingga kebijakan salat idul fitri yang terus berubah-ubah.
“Dari Pusat kebijakan berbeda dan Provinsi juga merespon berbeda begitupun kota, yang korban sebenarnya kan masyarakat akar rumput yang bingung atas kebijakan-kebijakan ini,” paparnya.
Prof Ridwan juga mengkritisi terkait pola komunikasi yang ditunjukan oleh Pj Wali kota Makassar, Yusran Jusuf, terkait penanganan Covid-19.
“Dalam komunikasi publik, pejabat harus berhati-hati,” tutupnya. Ahli Epidemiologi UNHAS Nilai PSBB Tidak Berdampak.(neng)








