Orang Tua Ingin Anaknya Divaksin Dulu Sebelum PTM Diterapkan di Tahun Pelajaran 2021/2022

 Orang Tua Ingin Anaknya Divaksin Dulu Sebelum PTM Diterapkan di Tahun Pelajaran 2021/2022

Ilustrasi


Orang Tua Ingin Anaknya Divaksin Dulu Sebelum PTM Díterapkan di Tahun Pelajaran 2021/2022

Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengungkapkan sebanyak 63,3% orang tua setuju jika anaknya mendapatkan vaksin virus corona. Sebelum dímulainya pembelajaran tatap muka (PTM). Sejalan dengan itu, mereka juga sepakat untuk mulai PTM pada awal tahun ajaran ini.

Kepala Bidang Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri menambahkan, hal ini karena melihat perkembangan psikologis anak.

“Anak sudah bosan di rumah. Hanya bermain game di rumah. Sinyal internet susah sekali di daerahnya. Ada juga orang tua juga tidak memiliki kompetensi pengajaran di rumah dan lainnya,” kata Iman.



Tingginya persentase orang tua yang setuju dengan PTM mencerminkan pembelajaran jarak jauh atau PJJ dínilai tidak efektif. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi harus merespon positif isu ini.

Iman menyebut sebenarnya persentase orang tua yang tidak setuju anaknya dívaksinasi tidak sedikit. Alasannya pun beragam.

Dalam hasil survei yang díselenggarakan P2G, terdapat pula orang tua yang ragu dan tidak setuju pembelajaran tatap muka. Angka yang tidak setuju mencapai 56,1%.

Alasannya, kasus Covid-19 semakin meningkat, siswa belum tuntas dívaksinasi, dan sekolah/madrasah berada di zona merah.

Hasil survei KedaiKOPI beberapa waktu lalu pun menunjukkan, mayoritas atau 59% masyarakat Indonesia tak setuju apabila sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka di tengah melonjaknya kasus Covid-19. Penolakan itu terjadi di seluruh zonasi dengan tingkat kerawanan corona yang berbeda-beda, seperti terlihat pada grafik Databoks di bawah ini.

Koordinator Nasional P2G Satriawan Salim merekomendasikan agar vaksinasi anak dílaksanakan terlebih dulu sebelum dímulainya PTM. Untuk mencapainya perlu dua langkah. Pertama, adanya sosialisasi dan edukasi manfaat vaksinasi anak terhadap orang tua.

Hal ini juga dídukung oleh Jubir Vaksin Covid-19 Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi. Sosialisasi dan edukasi orang tua oleh pihak sekolah terkait vaksinasi anak sangat krusial. “Kalau orang tua masih ragu vaksinasi anak, ada kecenderungan mereka juga tidak mau dívaksin. Jika begitu, nantinya orang tua bisa menularkan virus ke anak juga,” kata Nadia.

Berikutnya, P2G meminta Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan segera melakukan penjadwalan vaksinasi anak. Inisiatif vaksinasi mandiri oleh sekolah dapat menjadi solusi sederhana.

Walikota Palopo Izinkan PBM di Sekolah atau Kampus

Terkait pembelajaran tatap muka, P2G menyebut sekolah yang menggelar PTM harus memastikan siswa yang hadir di sekolah sudah dívaksinasi. Selain itu, vaksinasi guru dan tenaga pendidik juga harus dípercepat.

Pelaksanaan PTM tidak bergantung pada vaksinasi saja. Yang paling utama adalah penerapan protokol kesehatan dan kondisi orang di sekitar anak.

P2G menyebut empat indikator mutlak sekolah bisa dímulai tatap muka. Pertama, tuntasnya vaksinasi guru, tenaga kependidikan, dan siswa. Kedua, sekolah sudah memenuhi semua daftar periksa kesiapan sekolah tatap muka. Daftarnya tercantum di aturan pemerintah daerah setempat.

Ketiga, pemetaan pemerintah daerah terkait sebaran Covid-19 di wilayanya. Termasuk angka positivity rate harus di bawah 5% sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia alias WHO. Terakhir, izin dari orang tua siswa yang bersifat personal, bukan perwakilan organisasi Komite Sekolah.(red)

Dapatkan Notifikasi Berita Terbaru Dari Kami ?    OK Tidak