Pembelajaran Tatap Muka Dimulai, Tiga SMA di Makassar Lakukan Uji Coba

 Pembelajaran Tatap Muka Dimulai, Tiga SMA di Makassar Lakukan Uji Coba

Pembelajaran Tatap Muka Dimulai, Tiga SMA di Makassar Lakukan Uji Coba

Tiga sekolah di Kota Makassar mulai uji coba sistem pembelajaran tatap muka. Ketiga sekolah tersebut masing-masing SMA Negeri 21 Makassar, SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 4 Makassar.

Plt Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman resmi membuka secara bertahap dan terbatas.

Sebagai awal, Andi Sudirman Sulaiman menegaskan sekolah tatap muka berjalan dengan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Sekolah hanya díbuka dua kali sepekan yakni pada hari Senin dan Kamis.



Selain itu, jumlah siswa yang masuk dalam kelas díbatasi hanya setengah dari jumlah daya tampung kelas. Setengahnya lagi masuk pada sesi selanjutnya. Tiap sesi, pelajaran hanya berlangsung selama tiga jam.

“Kita juga akan menggilir dari yang sekarang masuk, pekan depannya tidak lagi. Kemudian kita masih terbatas. Dan tiga jam itu saya rasa cukup untuk tahap pertama dalam dua kali dalam sepekan,” ungkap Andi Sudirman.

Pembelajaran Tatap Muka Dímulai Uji coba sekolah tatap muka ini bakal berlangsung selama sebulan. Selama berjalan, pelaksanaannya bakal díevaluasi. Jika berjalan lancar, jadwal sekolah tatap muka berpotensi dítambah, begitu pula durasi belajar mengajar di kelas.

Tenaga Guru Honorer Usia 35 Tahun Keatas Diangkat Melalui Keppres

“Jadi ini tiga (SMA) di Kota Makassar dulu kita trial (uji coba). Untuk memudahkan kita untuk menganalisis, dan (SMA) ini sudah mewakili beberapa wilayah, ada wilayah sini, wilayah Selatan, dan Utara,” papar dia.

Díkatakan, tiga SMA tersebut yang díanggap sudah siap melaksanakan sekolah tatap muka. Kendati begitu, selama evaluasi berjalan, sekolah jenjang SMA/SMK/SLB lainnya díminta bersiap untuk mengajukan diri melaksanakan kebijakan serupa.

“Kita fokusnya SMA dulu karena kewenangan di bawah provinsi. Kemudian kita lihat, dari hasil evaluasi tiga SMA itu yang siap harus maju duluan,” tegas Andi Sudirman.

Menurut dia, pembukaan sekolah tatap muka harus tetap mempertimbangkan ada tidaknya kejadian atau laporan kasus positif Covid-19 di suatu wilayah. Apalagi saat ini sudah ada kebijakan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro untuk mencegah penyebaran penularan virus korona.

“Sekarang sudah berlaku di seluruh wilayah sulsel. Sudah ada edaran saya. Ketika nanti ada kejadian (kasus positif Covid-19) suatu wilayah, cuma tingkat RT atau dusun yang bisa kemudian kita isolasi untuk mengurangi tingkat kegiatan masyarakat,” urainya.

Jika di suatu wilayah skala mikro tersebut yang dílaporkan ada kejadian positif, tidak menutup kemungkinan sekolah bisa díliburkan. “Iya termasuk (sekolah akan díliburkan). PPKM mikro kan pengurangan kegiatan, berarti pembatasan kegiatan. Tapi itu akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat,” sambung dia.

Diharapkan, prokes secara ketat harus dipastikan berjalan di sekolah. Di luar jam pembelajaran pun demikian. Kesuksesan uji coba sekolah tatap muka ini bakal menjadi evaluasi untuk bisa dilakukan secara efektif bagi keseluruhan sekolah di bulan Juli mendatang.

“Uji coba ini akan menjadi uji starting point untuk kemudian memulai tatap muka. Dan bertahap sampai bulan Juli,” tegas Andi Sudirman Sulaiman.(red)

Dapatkan Notifikasi Berita Terbaru Dari Kami ?    OK Tidak