Petahana Lawan Kolom Kosong di Sulsel

 Petahana Lawan Kolom Kosong di Sulsel

Ilustrasi Pilkada serentak Sulsel


Petahana Lawan Kolom Kosong di Sulsel, Potensi itu Ada di Dua Daerah

Pendaftaran Bakal Calon Bupati/Walikota dan wakilnya untuk pilkada serentak 2020 hari ini mulai dibuka.

Untuk wilayah Sulawesi Selatan, seperti diberitakan sebelumnya, ada 12 Kabupaten/Kota yang akan ikut pada pesta politik KPU 5 tahun ini.

Dari 12 daerah, disebutkan ada dua daerah diantaranya berpotensi melawan kolom kosong. Daerah tersebut masing-masing adalah Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Gowa.



Pengamat politik dan pemerintahan dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto mengatakan hingga kini belum ada tanda-tanda ada penantang incumbent yang menyataklan siap berlaga pada Pilkada Serentak 9 Desember 2020.

Siapa Calon Pejabat Sementara Bupati, Ungkap Gubernur Sulawesi Selatan Adalah,….

“Andi Kaswadi dan Lutfi Halide yang akan berlaga di Kabupaten Soppeng, dan Adnan Purichta Ichsan Yasin Limpo-Abdul Rauf Malanganni di Kabupaten Gowa. Hingga saat ini belum ada penantang yang pasti,” ujar Luhur Prianto.

Hal ini tentu saja, menurut Luhur kurang menggembirakan. Dikatakan Luhur, tujuan dari pilkada langsung sebenarnya membuka akses seluas-luasnya bagi warga negara untuk berkompetisi memperebutkan formasi jabatan-jabatan publik. Tentunya, tidak menghendaki penumpukan kekuasaan di satu kelompok saja.

“Ini merupakan suatu bentuk kegagalan kelompok penantang yang gagal mengkonsolidasikan kekuatan untuk melawan kelompok petahana,” ujar Luhur Prianto.

Meskipun demikian, Luhur mengingatkan agar calon tunggal tak dulu berpesta seolah sudah menang.

“Meski Petahana Lawan Kolom Kosong, harus tetap waspada. Sebab, pertarungan sebenarnya masih tetap terjadi di bilik suara,” ujar Luhur Prianto.

Oknum Bawaslu Diduga Langgar Aturan UU, Sumpah Jabatan, dan Melanggar Kode Etik

Bila bercermin pada pengalaman Pemilihan Wali Kota Makassar 2018 lalu, kalau kekuatan pendukung kotak kosong betul-betul bisa terkonsolidasi, maka tidak mudah bagi calon tunggal untuk memenangkan kontestasi. Apalagi jika mereka mampu membangun strategi viktimisasi (psikologis korban) pada para pemilih.

Untuk itu, katanya pula, tantangan calon pasangan tunggal bersifat internal dan eksternal. Secara internal, psikologis pemenang yang seolah ‘berada di atas angin’ bisa berbahaya, jika kekuatan pendukung kotak kosong semakin terkonsolidasi.

“Secara eksternal, pembagian dan distribusi tugas-tugas elektoral di koalisi partai besar, kalau tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan dominasi dan marginalisasi. Harus ada pembagian kerja proporsional di antara para pendukungnya,” kata Luhur.(red)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dapatkan Notifikasi Berita Terbaru Dari Kami ?    OK Tidak