Opini: Kritik Terhadap Eksploitasi Sumber Daya Alam dan Dampaknya Terhadap Masyarakat

Muh Qayyum, Ketua komisariat PMII Unanda.
Banner

PALOPO, SPIRITKITA — Ketika pohon terakhir ditebang, sungai mulai dikosongkan, dan ikan terakhir ditangkap, manusia akan menyadari bahwa uang tidak bisa dimakan (Eric Weiner). Dalam usia lebih dari 78 tahun, Indonesia telah melewati berbagai prosesi demokrasi, dari demokrasi liberal hingga demokrasi pancasila. Meskipun demikian, sebagai masyarakat, kita perlu matang dalam menyikapi polarisasi yang ada.

Demokrasi prosedural, seperti yang diuraikan oleh Schumpeter, menempatkan hierarki kelembagaan dalam pengambilan keputusan politik. Namun, penting untuk tidak lupa pada substansi demokrasi, di mana rakyat seharusnya memiliki peran sentral dalam menentukan pemimpin dan sistem politik.

Pemilihan umum (Pemilu) merupakan dinamika politik yang melibatkan pemilih pemula, terutama generasi Z dan milenial, yang mendominasi sebagai pemilih pada Pemilu 2024. Partisipasi politik mereka menjadi kunci, tetapi juga rentan terhadap polarisasi.

Setelah Pemilu 2024 usai, refleksi masyarakat, terutama pemilih pemula, perlu di fokuskan pada pemahaman politik yang lebih baik. Netralitas, ketahanan terhadap provokasi, dan fokus pada isu-isu ekologis harus menjadi perhatian utama.

Penting untuk menghindari terprovokasi oleh polarisasi dan tetap konsisten menjunjung netralitas, menjaga kesatuan bangsa, dan fokus pada isu ekologis. Selain itu, penting untuk menilai pemimpin berdasarkan dedikasi nyata mereka untuk rakyat dan bukan sebagai proxy kelompok elit.

Kritik juga di tujukan pada eksploitasi sumber daya alam, seperti eksploitasi nikel berlebihan di Sulawesi. Eksploitasi ini tidak hanya merusak lingkungan tetapi juga menciptakan masalah sosial dan konflik. Masyarakat perlu lebih waspada dalam mengolah informasi di era digital yang sarat dengan penggiringan opini.

Terakhir, penekanan di berikan pada perlunya moratorium penerbitan izin tambang dan pemetaan dampak lingkungan secara menyeluruh. Pemerintah perlu meninjau ulang prosedur perusahaan tambang dan mengantisipasi potensi bencana yang dapat membahayakan masyarakat.

Dengan demikian, harapannya adalah agar pemimpin dan masyarakat bisa bersama-sama sadar akan pentingnya menjaga alam dan melestarikan lingkungan untuk keberlanjutan hidup.(*)

Banner
Pasangiklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *