Sawah Terkena Banjir di Luwu Tidak Semua “Puso”

 Sawah Terkena Banjir di Luwu Tidak Semua “Puso”

Ilustrasi


Sawah Terkena Banjir di Luwu Tidak Semua “Puso”

Lahan sawah petani yang terkena banjir bandang pada Agustus lalu terancam Puso atau gagal panen. Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu, tercatat ratusan hektar yang sawah yang tersapu banjir.

Di Kecamatan Larompong Selatan dan Kecamatan Larompong misalnya. Di daerah ini, seluas 170 hektare sawah petani di Kecamatan Larompong Selatan tersapu banjir.

Sementara itu, di Desa Tirowali, ada 150 hektare sawah yang terancam gagal panen. 50 hektare sawah di Buntu Kamiri dan 100 hektare sawah di Kelurahan Padang Sappa.



Selanjutnya, 50 hektare sawah di Desa Tanjong juga terendam banjir, 60 hektare sawah di Desa Buntu Batu. Termasuk perkebunan dan area tambak warga juga terendam.

Data yang hampir sama juga dikeluarkan Dinas Pertanian Kabupaten Luwu. Kepala Dinas Pertanian Luwu melalui Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, Islamuddin, mengungkapkan, 1008 hektare sawah yang terkena dan terdampak banjir.

Hanya saja, pihak Dinas Pertanian membantah jika dampak banjir tersebut akan membuat Puso atau gagal panen secara keseluruhan.

478 Hektare Dípastikan Gagal Panen

Dari 1008 hektare sawah di Luwu yang terkena dan terdampak banjir tersebut, hanya ada 478 hektare sawah yang memang masuk kategori puso atau tidak akan menghasilkan.

“Banjir yang terjadi pada akhir Agustus kemarin tidak menyebabkan sawah petani puso secara menyeluruh. Contoh di Larompong Selatan, umur padi sudah sebulan. Sudah hijau kemudian datang banjir, petugas kami sudah cek padi yang terkena banjir di sana dan masih bisa díselamatkan,” ujarnya.

Lebih lanjut Islamuddin mengungkapkan bahwa, Dinas Pertanian beserta UPT Dinas Pertanian Provinsi melalui petugas petugas Pengamatan Peramalan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (P3OPT) telah turun melakukan pengamatan dan pendataan sawah yang terkena dan terdampak banjir.

“Pemahaman puso ini jika 75 persen rusak atau tidak dapat bisa dítunggu panen, utamanya yang baru 3 hari hambur. “Kami sudah minta calon petani calon lahan atau CPCL, jumlahnya 478 hektare kategori puso karena sambal banjir, di daerah Walenrang Timur, Lamasi dan Lamasi,” pungkasnya.(her)

Dapatkan Notifikasi Berita Terbaru Dari Kami ?    OK Tidak