Penggunaan Bilik Desinfeksi Dinilai Tidak Aman

Penggunaan Bilik Desinfeksi guna Pencegahan Penularan Covid-19 dinilai sebagai upaya yang dianggap kurang efektif bahkan terkesan dapat membahayakan tubuh manusia.

Makanya, melalui surat edaran nomor HK : 0202/III/375/2020 tentang penggunaan bilik Desinfeksi, Kementerian Kesehatan RI resmi tidak menganjurkan Bilik yang dimaksud.

“Ini karena cairan yang digunakan itu, cenderung merupakan cairan untuk mendisinfeksi benda mati. Bukan untuk tubuh kita sehingga berbahaya,” jelasnya.

Bilik Desinfeksi

Sementara itu, Guru besar Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan MSi mengungkapkan, World Health Organization (WHO) telah memberi peringatan. Peringatan terkait bahaya pemakaian alkohol dan klorin (chlorine) pada tubuh.

“Dalam hal ini, pengetahuan mengenai kimia sangat diperlukan, mengingat banyak masyarakat awam yang membuat disinfektan maupun antiseptik sendiri,” ujar Fredy di Surabaya, dikutip Minggu, 5 April 2020.

Fredy mengingatkan, jika pemakaian alkohol dan klorin dilakukan oleh orang yang tidak punya kompetensi dan kapabilitas yang cukup dalam meramu dan menggunakan secara benar maka akan sangat berbahaya, baik bagi diri sendiri, orang lain, dan juga lingkungan dalam waktu dekat dan bisa jadi jangka panjang.

Dosen yang bergelut di bidang kemo dan biosensor ini menjelaskan lebih dalam apa itu antiseptik dan disinfektan. Berdasarkan istilah WHO, antiseptik adalah salah satu jenis disinfektan yang menghancurkan atau menghambat mikroorganisme pada jaringan hidup tanpa mengakibatkan cedera.

“Termasuk dalam klasifikasi ini adalah polyvidone iodine, chlorhexidine, dan alkohol,” ujar Fredy.

Sedangkan, disinfektan berfungsi menghancurkan dan menghambat mikroorganisme patogen pada keadaan nonspora atau vegetatif. Bahan-bahan berbasis kedua material yang disebut, yaitu klorin dan etanol, yang banyak tersedia di pasaran.

WHO, kata Fredy, sudah jelas tidak merekomendasikan cairan seperti etanol, klorin, dan H2O2 pada bilik sterilisasi. Fredy menjelaskan, bahan-bahan tersebut bersifat karsinogenik, bahkan mengakibatkan mutasi bakteri, dapat dilihat Material Safety Data Sheet (MSDS).

Pendapat ini mempertimbangkan dampak negatif pada satu hingga dua tahun ke depan. Fredy menerangkan, bilik sterilisasi memiliki dua bagian, yaitu bilik itu sendiri dan bahan disinfektan yang digunakan.

“Tujuan dari bilik ini adalah membunuh mikroorganisme yang menempel di badan atau di pakaian seseorang secara seketika,” kata dia.

Padahal, kata dia lagi, disinfektan hanya akan memengaruhi yang ada dalam ruangan bilik. Meski residunya pun dapat keluar dalam jumlah besar. Namun, hal yang menjadi pokok masalah bahaya dari bilik ini adalah bahan kimia yang digunakan.

Semua senyawa bahan kimia yang umum tersedia sebagai disinfektan. Berdasarkan Centers of Disease Control and Prevention (CDCP) dan WHO, memiliki efek yang cukup signifikan. Apalagi, bila digunakan kepada manusia secara langsung, kata Fredy.

“Ada dua senyawa yang aman digunakan, yaitu ozon dan chlorine dioxide. Namun tetap dengan ukuran yang telah ditentukan dan cara pemakaian yang benar,” kata Fredy.

Bilik sterilisasi menggunakan ozon dan chlorine dooxide memiliki potensi untuk digunakan mengatasi kasus Covid-19 dengan aman. Namun, syarat bilik sterilisasi harus dibuat dan dikontrol kualitasnya oleh tenaga ahli yang kompeten.

“Kontrol kualitas dari bilik yang dimaksud adalah terkait dosis dan cara penggunaan yang benar. Bahan-bahan disinfektan lain selain ozon dan chlorine dioxide tidak direkomendasi. Karena dapat mengakibatkan efek samping yang fatal dalam jangka waktu dekat maupun panjang,” kata Fredy.

Fredy mengatakan, dengan kondisi pandemi seperti saat ini, tentu saja semua cara perlu untuk dikerahkan dalam mengatasinya. “Saya harap hal ini dapat mengingatkan masyarakat. Boleh mengatasi masalah, tetapi jangan sampai menimbulkan masalah baru agar masyarakat tetap sehat selamat,” ujar Fredy

Salah satu daerah di Indonesia yang telah menggunakan Bilik Desinfeksi adalah Palembang. Sekretaris daerah kota Palembang, Ratu Dewa membenarkan hal itu. Bilik sterilisasi ini sebelumnya memang dipasang di sejumlah instansi pemerintahan termasuk di Kantor Walikota Palembang.

“Nantinya akan dievaluasi dan disiapkan surat edaran untuk tidak lagi digunakan,” katanya, Jumat (3/4/) kemarin.

Solusi aman untuk pencegahan penularan virus SARS-CoV-2 saat ini adalah melakukan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir dengan rutin. Atau gunakan hand sanitizer.

Membersihkan dan melakukan disinfeksi secara rutin. Permukaan dan benda-benda yang sering disentuh, misalnya perabot, peralatan kerja, ruangan, pegangan tangga atau eskalator, moda transportasi, dan lain-lain.

Update jumlah Korban Virus Corona se Sulawesi Selatan

Jika harus keluar rumah, hindari kerumunan, jaga jarak dan menggunakan masker, membuka jendela untuk mendapatkan sirkulasi udara yang baik.

Jika menggunakan kipas angin atau AC, perlu dilakukan pemeliharaan secara rutin dan segera mandi dan mengganti pakaian setelah bepergian.(red)

Read Previous

Pemkab Luwu Salurkan Bantuan Korban Banjir Lamasi Timur

Read Next

APBD Luwu Timur Terancam Dipangkas, Kemendagri Tetapkan Deadline

ADS AUTO

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *